Kemiskinan membuat Ima harus membantu ibunya berjual kue dipasar, karena miskin Fitri tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.
Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Ima melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Ima berpesan pada Fitri untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli ke
ranjang baru.
Saat pulang Ima tidak menemukan Fitri dirumah.
Ima langsung sangat marah. Putrinya benar- benar tidak tau diri, hidup susah tapi masih juga pergi main-main, padahal tadi sudah dipesan agar menunggu rumah.
Akhirnya Ima pergi sendiri menjual kue dan sebagai hukuman pintu rumahnya dikunci dari luar agar Fitri tidak dapat masuk.
Putrinya mesti diberi pelajaran, pikirnya geram.
Hujan Mulai Turun Deras diiringi Suara Petir Yang memekikkan telinga. Karena dinginnya Ima memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sesampai dirumah Ima menemukan Fitri, gadis kecil itu tergeletak didepan pintu. Ima berlari memeluk Fitri yang tubuhnya kaku dan sudah tidak bernyawa.
Jeritan Ima memecah dingin & derasnya hujan saat itu. Ia menangis meraung- raung, tetapi Fitri tetap tidak bergerak. Dengan segera Ima membopong Fitri masuk kerumah. Ima mengguncang tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Fitri.
Tiba-tiba sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Fitri. Ima mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya.
Isinya sebuah biskuit kecil yg
dibungkus kertas usang dan tulisan kecil yang ada dikertas adalah tulisan Fitri yang berantakan tapi masih dapat dibaca,
“Mama pasti lupa, ini hari istimewa bagi mama, aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah, uangku tidak cukup untuk membeli biskuit yang besar… Mama selamat ulang
tahun ya”.
Fitri Sangat Sayang sama Mama.



No comments:
Post a Comment