/

Ads 468x60px

Wednesday, September 5, 2012

KEBOHONGAN ORANG TUA KEPADA ANAKNYA

Cerita bermula ketika masih kecil, sebut saja si
Andi, terlahir sebagai seorang anak laki-laki di
sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
saja, seringkali kekurangan.
Ketika makan, sang
Orang Tua sering memberikan porsi nasinya untuk
Andi. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk Andi, Orang Tua berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG PERTAMA

Ketika Andi mulai tumbuh dewasa, Orang Tua yang

gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk
pergi memancing di kolam dekat rumah, Orang
Tua berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa
memberikan sedikit makanan bergizi untuk
petumbuhan. Sepulang memancing, Orang Tua memasak sup ikan yang segar dan mengundang
selera. Sewaktu Andi memakan sup ikan itu, Orang
Tua duduk disampingnya dan memakan sisa daging
ikan yang masih menempel di tulang yang
merupakan bekas sisa tulang ikan yang Andi
makan. Andi melihat Orang Tua seperti itu, hatinya tersentuh juga, lalu menggunakan sendok dan
memberikannya kepada Orang Tua’nya.
Tetapi
sang Orang Tua dengan cepat menolaknya, ia
berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” . KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEDUA.


Sekarang Andi sudah masuk SMP, demi membiayai
sekolah abangnya dan dia, Orang Tua pergi ke
koperasi pembuatan kotak korek api untuk
membawa sejumlah kotak korek api untuk
ditempel merk’nya, dan hasil tempelannya itu
membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, Andi
bangun dari tempat tidurnya, melihat Orang Tua
masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan
gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak
korek api.
Andi berkata :”Ibu/bapak, tidurlah, udah
malam, besok pagi ibu/bapak masih harus kerja.” Orang Tua tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, Orang Tua meminta cuti kerja
supaya dapat menemani Andi pergi ujian. Ketika
hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
Orang Tua yang tegar dan gigih menunggu Andi di
bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika
bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Orang Tua dengan segera menyambut Andi
dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam
botol yang dingin untuknya. Teh yang begitu kental
tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang
yang jauh lebih kental. Melihat Orang Tua yang
dibanjiri peluh, Andi segera memberikan gelasnya untuk Orang Tuanya sambil menyuruhnya minum.
Orang Tua berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah/ibu karena sakit, ayah/ibu
yang malang harus merangkap sebagai ayah dan
ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang
dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri.
Kehidupan keluarga pun semakin susah dan susah.
Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman
yang baik hati yang tinggal di dekat rumah Andi
pun membantu ayah/ibu baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di
sebelah rumah melihat kehidupan keluarga Andi
yang begitu sengsara, seringkali menasehati ayah/ ibu Andi untuk menikah lagi. Tetapi Orang Tua
yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ayah/ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta". KEBOHONGAN Orang Tua YANG KELIMA

Setelah Andi dan abangnya semua sudah tamat
dari sekolah dan bekerja, ayah/ibu yang sudah tua
sudah waktunya pensiun. Tetapi ayah/ibu tidak
mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk
jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Abang Andi yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi kebutuhan ayah/ibu, tetapi ayah/ibu
bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut.
Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu
berkata : “Saya punya duit” . KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, Andi pun melanjutkan studi ke
S2 dan kemudian memperoleh gelar master di
sebuah universitas ternama di Amerika berkat
sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya
Andi pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji
yang lumayan tinggi, Andi bermaksud membawa ayah/ibunya untuk menikmati hidup di Amerika.
Tetapi ayah/ibu yang baik hati, bermaksud tidak
mau merepotkan anaknya, ia berkata kepada Andi
“Aku tidak terbiasa”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ayah/ibu
terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di
rumah sakit, Andi yang berada jauh di seberang
samudra atlantik langsung segera pulang untuk
menjenguk ayah/ibunda tercinta. Andi melihat
ayah/ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ayah/Ibu yang keliatan
sangat tua, menatap Andi dengan penuh kerinduan.
Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya.
Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu
menjamahi tubuh ayah/ibu Andi sehingga ayah/ ibunya terlihat lemah dan kurus kering. Andi sambil
menatap ayah/ibunya sambil berlinang air mata.
Hatinya perih, sakit sekali melihat ayah/ibunya
dalam kondisi seperti ini. Tetapi ayah/ibu dengan
tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan” .KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang
kedelapan, ibu Andi tercinta menutup matanya
untuk yang terakhir kali.

No comments:

Post a Comment

Widget edited by super-bee